Rabu, 01 Mei 2013
NARCISSUS
di atas perahu sesederhana ini
jika harus berkaca pada ombak
dan musnah oleh sayapmu
aku bersedia, Izrail kekasihku.
dalam aporia aku mencintaimu
sebab akulah lelaki itu dengan
kesempurnaan yang ambisius
yang larut dalam raut Firdaus.
pada alun beriak dan selalu labil ini
yang buruk bukan hanya air laut
atau pekat mori terhampar di langit
tapi juga halusinasi tentang maut
saat angin telah menjelma serimpi
seekor hiu hanya mampu pesimis
dan dari kejauhan kawanan paus
bersiap menghadapi hitam gerimis
tetapi tak sedikitpun aku takut,
kecuali pada tirus jarum arus
karena waktu selalu di luar waktu:
papan yang berkesan surealis itu.
dalam aporia aku mencintaimu
sebab akulah nacissus yang akan
sembunyi untuk mendustaimu
dalam labirin kabut simulakra.
Jember, 2013
Jumat, 08 Maret 2013
HOMO LUDENS
: Sebuah Variasi
pada gelembung busa yang kautiup ke udara
kulihat semacam khayal tentang beribu dunia.
setengah curiga, akupun mulai bertanya:
“mungkinkah aku mengidap paranoia
atau memang mata ini terkena trakoma?”
lalu engkau mendekat dan berbisik kepadaku:
“di kota ini, sebenarnya kita telah mati
tetapi sekaligus dilahirkan kembali
berkali-kali, sampai tak ditemui garis ilusi.”
“mungkin manusia memang butuh tema
misalnya tentang karma yang tak lagi punya nama
ketika cemas tak lagi menemui batas
tapi bukankah kita telah menciptakan harapan
yang memang tak membutuhkan alasan
sebelum tiba-tiba kita merasa kehilangan?”
seseorang datang dan mulai bertanya:
“apakah nama lain dari kematian, tuan
saat maut enggan melepaskan sabitnya
bahkan membuangnya ke tengah laut?”
kau menjawab dengan nada yang gagap:
“manusia tak ada, Tuhan pun menunggu.
bahkan neraka pun mungkin akan mereda
ketika sorga mungkin jadi hal sederhana.
setelah itu hanya ada hening, hanya busa
yang perlahan mulai berpecahan di udara.
2013
pada gelembung busa yang kautiup ke udara
kulihat semacam khayal tentang beribu dunia.
setengah curiga, akupun mulai bertanya:
“mungkinkah aku mengidap paranoia
atau memang mata ini terkena trakoma?”
lalu engkau mendekat dan berbisik kepadaku:
“di kota ini, sebenarnya kita telah mati
tetapi sekaligus dilahirkan kembali
berkali-kali, sampai tak ditemui garis ilusi.”
“mungkin manusia memang butuh tema
misalnya tentang karma yang tak lagi punya nama
ketika cemas tak lagi menemui batas
tapi bukankah kita telah menciptakan harapan
yang memang tak membutuhkan alasan
sebelum tiba-tiba kita merasa kehilangan?”
seseorang datang dan mulai bertanya:
“apakah nama lain dari kematian, tuan
saat maut enggan melepaskan sabitnya
bahkan membuangnya ke tengah laut?”
kau menjawab dengan nada yang gagap:
“manusia tak ada, Tuhan pun menunggu.
bahkan neraka pun mungkin akan mereda
ketika sorga mungkin jadi hal sederhana.
setelah itu hanya ada hening, hanya busa
yang perlahan mulai berpecahan di udara.
2013
Jumat, 04 Januari 2013
BALADA LAYLA
di pulau khayal,
pukau yang tak ada ini
bintang-bintang yang turun
seperti sebuah hijrah
jatuh, menyusun formasi
semacam repetisi vokal:
'O'
pada sebuah muka danau
sekejap lantas melenyap.
mungkin hujan juga dongeng di selatan,
di mana matahari tak lagi kelihatan
seperti ilusi maka hal kecil jadi labil
seperti hijau menghindari warna hitam
di mana yang minim jadi anonim
dan bahagia adalah hipotermia.
pada selimut aku seperti menemui maut
yang diterjemah igau selain warna gelap.
aku Sita, sisa pembakaran,
abu yang lupa dijemput api,
semisal engkau Rama
engkaulah ksatria sepi itu
tapi aku mencoba berdo'a
karena cinta telah kupilih.
lalu di plateau jeritmu terdengar pilu
oleh angin yang membawa paraumu kepadaku
karena panah tak pernah menjadikanmu dewa
ujungnya tak pernah menyantuh apa-apa.
andaikan engkau Sita, maka akulah Rahwana.
2013
Minggu, 16 September 2012
SEGREGASI
*
suatu malam kusaksikan engkau
mulai menghilang di sebuah hutan
dua turis yang lewat pun bertanya:
"mungkinkah kau ingini sorga
kemudian lari dan berdusta?"
"tuan, saya percaya mimpi itu seperti
jalan munuju kepada mimpi yang lain."
dan seseorang memberinya isyarat
dan pemuda kurus itu tak mendekat,
*
ia mengerti, pada kusta dan asma
tak akan lagi ditemuinya harapan
yang ada hanyalah batuk
yang datang cuma bujuk
seseorang tua yang disegani,
seorang istri yang tak kembali:
"yang jauh bukan jarak
tapi waktu terlewatkan."
dengan dahaga bercampur
diingatnya lagi kalimat lain:
yang dekat bukanlah kiamat
tapi Tuhan yang tak terlihat.
*
di malam nanti mungkinkah
ada yang sesuatu melintas
misalnya tentang meteor jatuh
atau malaikat yang akan lewat
lantas menginap pada perlak,
pada dosa yang tak dilakukan.
sementara di dingin hanya ada
siul rendah di malas dedaunan
dan bekas gerimis pada terpal
dan tembakau apak pada usuk.
*
tapi mungkin juga sepi yang diinginkan
dengan amnesti dari sebuah kematian.
jember, 2012
suatu malam kusaksikan engkau
mulai menghilang di sebuah hutan
dua turis yang lewat pun bertanya:
"mungkinkah kau ingini sorga
kemudian lari dan berdusta?"
"tuan, saya percaya mimpi itu seperti
jalan munuju kepada mimpi yang lain."
dan seseorang memberinya isyarat
dan pemuda kurus itu tak mendekat,
*
ia mengerti, pada kusta dan asma
tak akan lagi ditemuinya harapan
yang ada hanyalah batuk
yang datang cuma bujuk
seseorang tua yang disegani,
seorang istri yang tak kembali:
"yang jauh bukan jarak
tapi waktu terlewatkan."
dengan dahaga bercampur
diingatnya lagi kalimat lain:
yang dekat bukanlah kiamat
tapi Tuhan yang tak terlihat.
*
di malam nanti mungkinkah
ada yang sesuatu melintas
misalnya tentang meteor jatuh
atau malaikat yang akan lewat
lantas menginap pada perlak,
pada dosa yang tak dilakukan.
sementara di dingin hanya ada
siul rendah di malas dedaunan
dan bekas gerimis pada terpal
dan tembakau apak pada usuk.
*
tapi mungkin juga sepi yang diinginkan
dengan amnesti dari sebuah kematian.
jember, 2012
Rabu, 20 Juni 2012
JEMBATAN
dari atas jembatan
ia lihat bulan hilang
dan kembung mendung
berhamburan.
dari atas jembatan
ia lihat bulan terapung,
gemetar dan ikan lari
ke tepian.
dari jembatan ia lihat
suatu mirip keabadian
tersangkut pada dahan.
dari atas jembatan
ia seperti melihat dosa:
batu-batu berziarah
tapi di seberang
seseorang ingin menukar bintang
dengan kunang-kunang hutan.
mei-2012
ia lihat bulan hilang
dan kembung mendung
berhamburan.
dari atas jembatan
ia lihat bulan terapung,
gemetar dan ikan lari
ke tepian.
dari jembatan ia lihat
suatu mirip keabadian
tersangkut pada dahan.
dari atas jembatan
ia seperti melihat dosa:
batu-batu berziarah
tapi di seberang
seseorang ingin menukar bintang
dengan kunang-kunang hutan.
mei-2012
Minggu, 20 Mei 2012
PADA SEBUAH ASBES
suatu siang
pada sebuah asbes
di atas barak
maut yang dingin pun leleh.
ventilasi belum jadi
hanya patung Atlas yang mabuk
memanggul sunyi,
mamanggul katarsis waktu yang ilusi.
pada kaca meja transparan
yang maya bebas untuk lewat
bebas untuk berkelebat
dan hitam bayang dari
atap terus dipantulkan.
tak jauh dari meja,
kursi kayu dengan
spasi membeku
tapi tak seorang pun akan
sanggup memanjangkannya
sampai dinding itu jadi ada.
dan maut akan kembali
dalam bentuk seperti semula,
media yang bisu, tuli dan buta.
122010
Kamis, 05 April 2012
IA
ia
lebih suka duduk
menyendiri
membayangkan
hal-hal gila
misalnya:
terbang membunuh diri
atau duduk
bersila
menjadi
pertapa abadi.
ia
pun tugur
ia bersandar
pada sebuah batu
pada sebuah sandi
yang tak pasti
mungkinkah ia mencari nabi?
“tidak
tuan, nabi tak pasti
karena
aku masih ingini mimpi”
katanya
dengan rendah hati
ia
pun memangil silir angin
agar
dikucilkanya waktu
di
antara kabut
yang
belum seutuhnmya selesai
tapi malam
ini
ia
ingin bersandiwara
ia
ingin menembangkan macapat
dengan
fasih
seperti
menyebut sebuah nama
lalu ia
pasang dam di alir kali
dan ia
melihat sebuah wajah,
ya
wajahnya sendiri.
1-4/2012
Langganan:
Postingan (Atom)


